Rengasdengklok ku sayang, Rengasdengklok ku malang

Indonesia tanah air beta. Tapi seakan lupa pada sejarah yang ada.
Rumah-ku Rengasdengklok, saksi sejarah perubahan Indonesia raya yang merdeka. Sayang disayang nasibnya malang.
Rumah yang menjadi saksi bisunya kemerdekaan, kini untuk diperjual belikan.
Kemana larinya para pejabat negara berdasi?
Berleha-leha diatas empuknya kursi. Menjalankan tugasnya? Saya kira hanya beberapa orang yang bener menjalankan itu.
Sang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab atas setiap sejarah negara yang ia pimpin. Apa iya mereka mengingat akan jasa para pahlawan entah itu yang bernyawa ataupun tidak (?)
Tanpa adanya sejarah, suatu negara bukanlah apa-apa. Lalu apa yang mereka bisa banggakan dengan dasi di dada dan mobil-mobil mewah mentereng?
Kalau kenyataannya untuk menjaga sejarah saja bangsa ini tidak mampu.
Sang Proklamator hanya berwasiat untuk menjaga warisan negara, sejarah.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat sejarahnya.
Kita beruntung, dapat menikmati segalanya dengan instan.
Lalu bagaimana nasib para pahlawan yang dulu? Mereka harus benar-benar mempertaruhkan jiwa dan raga untuk menjadikan Indonesia raya ini dikenal mata dunia.
Kita hanya tinggal melanjutkan, menghargai, menjaga semua yang telah diwariskan oleh mereka.
Mereka adalah The Truly Hero.
Kita membanggakan dasi kita hanya untuk berlomba-lomba mencari jabatan.
Orang berdasi adalah orang-orang yang mengerti ilmu pengetahuan, orang pintar.
Tapi apa yang mereka lakukan?
Mereka hanya berlomba-lomba memperbanyak harta dengan segala cara, ya itulah korupsi.
Buat apa membuat rel sepanjang itu, tapi hasilnya nihil.
Lebih baik sumbangkan si "16 T" itu kepada para pahlawan bernyawa ataupun tidak.
Para veteran, apakah mereka mendapatkan santunan dari hasil kerjakeras mereka?
Bangsa ini bangsa banyak budaya, hargai sejarah dan budaya selagi kita mampu.
Oh, Rengasdengklok ku sayang, Rengasdengklok ku malang.